News
Pelepasan Mahasiswa KKN STAIB Angkatan I Tahun 2025
Angkatan I Tahun 2025
Pandan, 12 Agustus 2025 — Sekolah Tinggi Agama Islam Barus (STAIB) resmi melepas mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) angkatan pertama tahun 2025. Kegiatan KKN ini dilaksanakan di tiga desa di Kabupaten Tapanuli Tengah, yakni Desa Ujung Batu, Desa Kinali, dan Desa Sitiristiris.
Prosesi pelepasan diawali dengan apel persiapan di halaman kampus STAIB yang dihadiri oleh dosen dan tenaga kependidikan. Mahasiswa yang dilepas akan didampingi langsung oleh Dosen Pendamping Lapangan (DPL).

Ketua LPPM STAIB, Nanda Sekti Prayetno, S.Ag., M.Ag., menyampaikan bahwa pelepasan ini juga diikuti didampingi oleh dua Ketua Program Studi, yaitu Muhamad Burhanuddin, S.Th.I., M.A. selaku Kaprodi Studi Agama-Agama, dan Ikbal Husni, M.Hum. selaku Kaprodi Sejarah Peradaban Islam.

Dalam pengarahan sebelum keberangkatan, para DPL menekankan pentingnya menjaga keseriusan dan etika selama pelaksanaan KKN. Mahasiswa diminta untuk tidak berhura-hura selama perjalanan serta menjaga marwah dan nama baik kampus sebagai almamater di lokasi pengabdian masing-masing.
Adapun pembagian mahasiswa peserta KKN di Desa Ujung Batu (7 orang), didampingi oleh Ketua LPPM yaitu Fathul Zannah Tanjung, Marliana, Elfi Sinaga, Sakinah, Ridwan Pasaribu, Muhammad Fajri dan Muhammad Raihan.

Kemudian di Desa Kinali (8 orang) yang didampingi oleh Kaprodi Studi Agama-Agama yaitu Adzizah Hutabarat, Muhammad Abduh Panggabean, Maluddin, Muhammad Azhar Malau, Siti, Rahmaini Gorat, Mirna Manalu dan Syahyuni.
Dan yang terakhir yaitu Desa Sitiristiris (8 orang), didampingi oleh Kaprodi Sejarah Peradaban Islam yaitu Muhammad Afandi Pasaribu, Juanda Simanullang, Irsan Simanullang, Sahrina Yanti Lubis, Isma Hasibuan, Suci Situmeang, Sritanti Banjar dan Sri Rahayuni Tanjung.
Pelaksanaan KKN berlangsung mulai 12 Agustus hingga 25 September 2025. Momentum ini menjadi lebih bermakna karena bertepatan dengan peringatan Hari Kemerdekaan Republik Indonesia 17 Agustus 1945. Diharapkan para mahasiswa dapat turut serta dalam kegiatan perayaan HUT RI bersama masyarakat, sehingga tercipta interaksi yang harmonis antara mahasiswa dan warga desa.
Harapannya, kegiatan KKN ini tidak hanya menjadi ajang pengabdian akademik, tetapi juga sarana pembelajaran sosial dan spiritual bagi mahasiswa. STAIB berharap para peserta mampu menunjukkan sikap profesional, religius, dan adaptif dalam setiap dinamika masyarakat. Semoga kehadiran mahasiswa di tengah-tengah masyarakat dapat memberikan kontribusi nyata dan memperkuat citra positif STAIB sebagai lembaga pendidikan tinggi Islam yang aktif dalam pengembangan masyarakat.
Ditulis oleh:
Penulis **Nanda Sekti Prayetno, S.Ag.,M.Ag**
Ketua LPPM STAIB
STAI Barus Gelar Pembekalan Perdana Mahasiswa KKN
Angkatan I Tahun 2025
Pandan, 11 Agustus 2025 – Sekolah Tinggi Agama Islam (STAI) Barus secara resmi melaksanakan kegiatan pembekalan bagi mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) angkatan perdana tahun 2025. Kegiatan pembekalan ini diselenggarakan pada hari Senin, 11 Agustus 2025, bertempat di aula kampus STAI Barus dan dihadiri oleh para pimpinan, dosen, dan mahasiswa peserta KKN.
Kegiatan pembekalan dibuka secara resmi oleh Ketua STAI Barus yang diwakili oleh Wakil Ketua I Bidang Akademik, Prof. Dr. Rusmin Tumanggor, M.A. Dalam sambutannya melalui online zoom, beliau menyampaikan bahwa pelaksanaan KKN merupakan bagian penting dari proses pembelajaran mahasiswa di perguruan tinggi. “Melalui KKN, mahasiswa dituntut untuk mampu menerapkan ilmu yang telah diperoleh di bangku kuliah secara langsung kepada masyarakat. Ini adalah momentum pengabdian sekaligus pembuktian kapasitas intelektual dan sosial mahasiswa STAI Barus,” ujarnya.
Sambutan berikutnya disampaikan oleh Wakil Ketua II Bidang Administrasi dan Keuangan, Dr. Fahriany, M.Pd. Beliau memberikan penekanan pada pentingnya menjaga etika, semangat kolaboratif, dan tanggung jawab selama berada di lokasi KKN. “Mahasiswa bukan hanya membawa nama pribadi, tetapi juga membawa nama lembaga. Maka jaga sikap, jalin komunikasi yang baik dengan masyarakat, dan manfaatkan waktu KKN ini sebagai ruang pembelajaran sosial,” tuturnya.
Kepala Humas STAI Barus, Drs. Sulaiman, M.Ag., dalam arahannya mengingatkan pentingnya membangun citra kampus melalui perilaku mahasiswa di lapangan. “KKN adalah cerminan kualitas institusi. Jika mahasiswa mampu memberi dampak positif di tengah masyarakat, maka secara tidak langsung kita telah ikut membangun kepercayaan publik terhadap STAI Barus,” tegasnya.
Sementara itu, Ketua Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LPPM), Nanda Sekti Prayetno, S.Ag., M.Ag., menyampaikan bahwa lokasi KKN tahun ini dipusatkan di tiga desa di wilayah Kabupaten Tapanuli Tengah, yaitu Desa Ujung Batu dan Desa Kinali di Kecamatan Barus, serta Desa Sitiristiris di Kecamatan Andamdewi. “Penentuan lokasi ini dilakukan setelah survei lapangan dan koordinasi dengan pihak desa. Ketiga desa ini kami nilai representatif dan memiliki potensi bagi mahasiswa untuk terlibat aktif dalam pengembangan masyarakat,” ungkapnya. Ia juga menegaskan bahwa pelaksanaan KKN akan berlangsung selama 45 hari, mulai 12 Agustus hingga 25 September 2025.
Turut memberikan arahan dalam kegiatan tersebut adalah Ketua Program Studi Sejarah Peradaban Islam, Ikbal Husni, M.Hum., yang menekankan pentingnya pendekatan historis dan budaya dalam membangun relasi dengan masyarakat lokal. “Mahasiswa harus mampu melihat dinamika masyarakat dengan perspektif sejarah dan kultural. Ini akan membantu mereka menyesuaikan program kerja yang relevan dan diterima oleh warga,” katanya.
Sementara itu, Ketua Program Studi Studi Agama-agama, Muhamad Burhanuddin, M.A., menekankan pentingnya sikap toleransi dan kepekaan terhadap keragaman masyarakat. “Mahasiswa harus hadir sebagai agen perubahan yang membawa semangat keberagaman, dialog antarumat, dan semangat gotong royong,” ujarnya.
Pelaksanaan KKN ini menjadi tonggak penting dalam sejarah STAI Barus, karena merupakan KKN perdana sejak kampus ini berdiri. Diharapkan, kegiatan ini menjadi ajang nyata bagi mahasiswa untuk mengabdikan diri kepada masyarakat dan menerapkan teori yang telah dipelajari di bangku kuliah ke dalam kehidupan nyata.
“Pengabdian kepada masyarakat adalah puncak dari proses akademik mahasiswa. Inilah saatnya mereka membuktikan bahwa ilmu yang diperoleh bukan hanya untuk diri sendiri, tapi juga untuk kemaslahatan umat,” tutup Prof. Rusmin dalam sambutan penutupnya.
Ditulis oleh:
Penulis **Ira Novita Sari, S.Hum.,M.Ag**
Dosen STAIB
Mahasiswa STAIB Berhasil Memperoleh Juara di Pemilihan Putera – Puteri Kebudayaan Kabupaten Tapanuli Tengah Tahun 2025.
Alhamdulillah membanggakan..
Mahasiswa Sekolah Tinggi Agama Islam Barus meraih 5 penghargaan pada Grand Final Pemilihan Putera – Puteri Kebudayaan Kabupaten Tapanuli Tengah Tahun 2025.
Juara 1 Dinda Widyasari Manik
Juara 3 Suci Rahmadhani Situmeang
Juara 6 Tiolo Pohan
Top 10 Besar Muhammad Ashar Malau & Sakinah
Sukses selalu dan menginspirasi Mahasiswa yang lainnya.
GOR Pandan, 18 Juni 2025.
KEMBALI KE FITRI MERAWAT NURANI MENUJU INDONESIA EMAS
Hari Raya Kemanusiaan
Pada hari ini Allah Yang Maha Pemurah pencurah rahmah, kembali melimpahi kita karunia yang tak terhingga, merayakan Idul Fitri, Hari Raya Kemanusiaan. Hari dimana agama membimbing kita mengungkapkan kebahagiaan dan kegembiraan, bukan dengan pesta pora dan hura-hura, tetapi dengan kumandang takbir, tahlil dan tahmid memuji asma Allah.
Kita berbahagia dan bergembira, karena telah beroleh kemenangan atas kesyaitanan yang jahat dan terkutuk. Sebulan penuh, kita bertarung mengalahkan hawa nafsu, menghancurkan keserakahan dan ketamakan, serta mengeksekusi kebinatangan yang selalu menggagahi kesucian hati nurani manusia. Kemenangan itu membuat kita merampungkan tenunanan libas al-taqwa/pakaian ketakwaan.
Libas al-taqwa yang kita kenakan hari ini, membuat kita merasa dekat dengan Allah. Dengan rasa dekat pada Allah, kita menjadi lebih istiqamah dan teguh dalam aqidah/berkeyakinan, namun senantiasa tasamuh/toleran dalam bermuamalah/berinteraksi sosial. Dengan rasa dekat pada Allah, kita bertambah amanah dalam menimang pangkat dan jabatan dan terjauh dari kegemaran risywah dan gratifikasi. Dengan rasa dekat pada Allah, kita menjadi tidak boros walaupun punya harta berlimpah, membuat kita pemurah, kendati yang ada di tangan hanya pas-pasan. Dengan rasa dekat pada Allah kita tidak menuntut yang bukan hak dan tidak menahan hak orang lain. Dengan rasa dekat pada Allah, kita tidak suka menyebar fitnah, tidak gandrung menyemai kebencian, dan tidak gemar menabur berita hoax serta memelintir kata di media sosial.
Untuk itu, waspadahal terhadap prilaku perempuan tua dalam cerita lama, yang merombak tenunannya sehelai demi sehelai, setelah dirajutnya dengan sempurna, sebagai dikisahkan dalam surah An-Nahl ayat 92 :
وَلَا تَكُوْنُوْا كَالَّتِيْ نَقَضَتْ غَزْلَهَا مِنْۢ بَعْدِ قُوَّةٍ اَنْكَاثًاۗ
Janganlah kamu seperti seorang perempuan yang menguraikan tenunannya yang sudah dipintal dengan kuat menjadi cerai-berai kembali.
Iman melahirkan amal, taqwa membuahkan akhlak, dan takbiratul ihram ditutup dengan salam. Pengagungan terhadap Allah, melahirkan penghargaan terhadap harkat dan martabat manusia, dengan penunaian zakat fitrah, memberi makanan yang sepadan untuk fakir miskin kaum mustadh’afun, sebagai wujud ketakwaan dengan menegakkan keadilan dan menebar kebajikan.
Menegakkan keadilan dan menebar kebajikan adalah perjuangan yang sangat mulia. Hal itu hanya bisa terwujud bila keadilan sosial ekonomi tegak dengan kokoh, sebuah pesan Al-Qur’an yang juga diamanatkan dengan sangat kuat dalam pembukaan UUD 1945. Yakni menyusun suatu Pemerintah Negara Indonesia yang melindungi segenap bangsa Indonesia dan seluruh tumpah darah Indonesia dan untuk memajukan kesejahteraan umum, mencerdaskan kehidupan bangsa, dan ikut melaksanakan ketertiban dunia yang berdasarkan kemerdekaan, perdamaian abadi dan keadilan sosial.
Untuk menangkap pesan kuat Pembukaan UUD 1945 yakni kemerdekaan, perdamaian abadi dan keadilan sosial tersebut, marilah sejenak kita menyimak sebuah kisah dalam kehidupan Rasulullah Saw., betapa beliau sangat mengutuk perbuatan dzulmani kezaliman dalam bentuk apapun.
Praktek Rasywah Ibnu Luthbiyah
Siang itu salah seorang anggota amil zakat disemprot oleh Rasulullah Saw. Semprotan itu beliau sampaikan melalui mimbar agar diketahui khalayak kaum muslimin. Setelah bertahmid memuji Allah Yang Maha Agung, beliau bersabda : “Aku telah menugaskan seseorang di antara kalian untuk suatu tugas yang diberikan Allah kepadaku. Lalu dia melaksanakannya dan berkata, “Ini untukmu dan ini hadiah untukku.” Mengapa dia tidak duduk saja di rumah dan menunggu hadiah itu datang? Demi Allah, tidaklah seorang di antara kalian mengambil sesuatu yang bukan haknya melainkan dia akan menghadap Allah pada Hari Kiamat dengan memikul sesuatu itu yakni apa yang dia ambil dari orang lain yang bukan haknya. “
Nabi Saw sangat tegas dalam sabda beliau ini, sampai-sampai di akhir semprotan itu beliau mengulang tiga kali kalimat, Ya Allah bukankah aku telah sampaikan, Ya Allah bukankah aku telah sampaikan, Ya Allah bukankah aku telah sampaikan. “ Kalimat yang diulang tentu bukanlah perkataan sembarangan.
Sebenarnya apa yang terjadi ? Siapa petugas amil zakat yang disemprot oleh Rasulullah itu? Dialah sahabat bernama Ibnu Lutbiyyah, anggota suku Azdi kaum Anshar Madinah. Perawakannya menyenangkan, tingkah lakunya lembut. Rasulullah memberikan tugas kepadanya sebagai petugas pengumpul zakat. Ibnu Lutbiyyah orang yang tekun dalam pekerjaan. Kaum Muslimin menyenangi cara kerjanya. Lantas tak hanya zakat yang mereka titipkan, sejemput hadiah mereka berikan kepada sang petugas. Hadiah sebagai bentuk rasa terima kasih.
Demikianlah, Ibnu Lutbiyyah menemui Rasulullah, melaporkan hasil amanah sebagai pengumpul zakat. Namun di samping itu dia juga berkata, “Ya Rasulullah, ini untukmu hadiah dari umat dan yang ini diberikan untukku.”
Ucapan inilah yang membuat Baginda Rasulullah sangat marah dan menyemprot Ibnu Lutbiyyah sedemikian rupa. Sesungguhnya yang dilakukan oleh Ibnu Lutbiyyah hanyalah menyampaikan kesukarelaan jamaah kaum muslimin yang sudah menyelesaikan pembayaran zakat mereka. Lalu sebagai tanda terima kasih atas tugas tersebut, kaum Muslimin memberinya uang di luar penunaian kewajiban zakat. Jutru ini pulalah menyulut kemarahan Rasulullah sehingga beliau menyemprot Ibnu Luthbiyah secara terbuka di depan khalayak.
Hadiah yang diberikan oleh Ibnu Luthbiyah kepada Rasulullah dan dia terima sendiri adalah sejatinya risywah. Andai Ibnu Lutbiyyah bukan anggota pejabat pemungut zakat, pastilah umat tidak memberikan apa-apa kepadanya. Apa yang dilakukan oleh Ibnu Luthbiyyah kepada Rasulullah tersebut bentuk dari rasywah atau gratifikasi yang kelak menjadi benih bagi bertumbuh suburnya tindak korupsi di era kita sekarang ini.
Klasemen Liga Korupsi Indonesia
Korupsi adalah tindakan penyalahgunaan kekuasaan atau jabatan untuk kepentingan pribadi, sementara gratifikasi pemberian hadiah atau sesuatu yang berharga kepada seseorang, yang dapat diduga sebagai suap jika terkait dengan jabatan. Gurita korupsi inilah yang sedang melilit perekonomian bangsa kita.
Dugaan Kejaksaan Agung telah terjadi mega skandal korupsi tata kelola minyak mentah Pertamina mencapai nilai 193,7 T pada 2023. Hal ini diduga telah berlangsung sejak 2018, yang bila ditotal kerugian negara telah mencapai 968,5 T.
Itu baru hitungan kerugian negara. Ternyata minyak mentah itu dioplos dari Pertalite menjadi Pertamax. Oplosan Pertalite menjadi Pertamax dengan selisih harga Rp.2,900,- perliter diduga mrugiksn masyarakat 47 Miliar perhari atau 17, 4 T setahun, dan lagi-lagi itu diduga sudah berlangsung sejak 2018. Kezaliman ini bukan lagi hanya extra ordinary crime, kejahatan luar biasa, tetapi sudah menjadi perbuatan biadab.
Mega skandal korupsi Pertamina ini hanyalah fenomena puncak gunung es yang di bawah puncak itu lilitannya menggurita kemana-mana. Plesetan media menyebut Klassemen Liga Korupsi Indonesia menempatkan Pertamina pada posisi teratas sebesar 968,5 T. Di bawahnya bertengger PT. Timah 300 T, BLBI138,4 T, PT. Duta Palma Group 78 T, PT. TPPI 37,8 T, PT. Asabri 22, 7 T, dan PT. Jiwa Sraya 16, 8 T. Sungguh negara kita berada pada posisi dzulmani.
Jihad paska Ramadhan
Oleh sebab itu tugas besar sudah menghadang di depan kita, yakni menerjemahkan nilai-nilai serta hikmah yang telah dipetik selama Ramadhan. Kalau kita seorang ASN kenakanlah pakaian disiplin kerja tanpa mencuri-curi kesempatan untuk bolos. Bila kita seorang yang duduk di belakang meja birokrasi kenakanlah pakaian pelayanan yang menyejukkan tanpa mengharap uluran amplop. Jika kita seorang anggota legislatif, jangan kembangkan sifat mencari-cari peluang untuk memperkaya diri dengan cara melegalkan perilaku yang terlarang dan tidak terpuji. Andai kita seorang pemegang amanah konstituen partai, hindarilah bisikan syahwat politik yang menggerogoti kejujuran dan istiqamah dalam bersikap. Kalau kita anggota TNI berlaku amanahlah menimang jabatan sipil yang semakin meluas. Jika kita anggota kepolisian bersungguh-sungguhlah memerangi citra bayar polisi.
Inilah manifestasi sikap hidup umat terbaik dimunculkan ke pentas sejarah kemanusiaan dengan tugas pencerahan bagi sesama, sebagaimana firman-Nya dalam surah Ali Imran (3) ayat 110 :
كُنْتُمْ خَيْرَ اُمَّةٍ اُخْرِجَتْ لِلنَّاسِ تَأْمُرُوْنَ بِالْمَعْرُوْفِ وَتَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنْكَرِ وَتُؤْمِنُوْنَ بِاللّٰهِ ۗ
Kamu (umat Islam) adalah umat terbaik yang dilahirkan untuk manusia (selama) kamu menyuruh (berbuat) yang makruf, mencegah dari yang mungkar, dan beriman kepada Allah.
Usai ber-Idul Fitri, kita perbaharui tekad untuk tampil sebagai ujung tombak, berjihad dengan professi dan kapasitas kita masing-masing bersama pemerintah untuk keluar dari dzulmani kegelapan peradaban menuju Indonesia Emas 2045.***
Jajaki Pembentukan lembaga Wakaf, Pimpinan STAIB Lakukan Audiensi dengan Badan Wakaf Indonesia
Pimpinan Sekolah Tinggi Agama Islam Barus (STAIB) bersama dengan pengurus Yayasan Maju Tapian Nauli (Matauli) menggelar audiensi dengan Badan Wakaf Indonesia (BWI), Rabu 18/1/2023.
Audiensi tersebut digelar untuk menjajaki pembentukan lembaga Wakaf di bawah pengelolaan STAIB dan Yayasan Matauli.
Pimpinan STAIB dan Yayasan Matauli yang terdiri atas Ketua STAIB Prof. Dr. Yunan Yusuf, Wakil Ketua I Prof. Dr. Rusmin Tumanggor, Ketua Panitia Pendirian STAIB Dr. Fahriany dan Sekretaris Yayasan Matauli Achmad Affan diterima langsung oleh Sekretaris Badan Wakaf Indonesia (BWI) KH. Sarmidi Husna.
Ketua STAIB Prof Dr. M. Yunan Yusuf mengatakan pembentukan badan wakaf merupakan salah satu upaya untuk mengembangkan STAIB yang resmi berdiri berdasarkan Keputusan Menteri Agama Nomor 1114 Tahun 2022.
“STAIB memandang wakaf, infaq dan shadaqah sebagai salah satu sumber pembiayaan. Itulah yang membuat kami berkeyakinan mengembangkan badan wakaf,” ujar Prof Yunan Yusuf.
Prof Yunan Yusuf mengatakan dibanyak lembaga pendidikan, wakaf menjadi salah satu sumber pendanaan yang bisa menopang operasional sekolah atau universitas.
“Saya baca sejarah, misalnya Universitas Al Azhar Kairo, Mesir, tumbuh dan berkembang menjadi salah satu lembaga pendidikan terkemuka, ternyata ditopang oleh wakaf,” terangnya.
Hal inilah yang menjadi salah satu alasan untuk membentuk lembaga wakaf di STAIB sebagai upaya untuk menghimpun dana dari pihak eksternal.
“Oleh karena itu, kami meminta masukan dan wejangan dari Badan Wakaf Indonesia terkait pengembangan wakaf agar tidak salah melangkah. Kita sangat berharap dukungan terkait wakaf ini,” tambahnya.
Sementara itu, Sekretaris Badan Wakaf Indonesia KH. Sarmidi Husna mengatakan bersyukur saat ini semakin banyak lembaga yang mengembangkan wakaf di Indonesia.
“Kalau ada yayasan atau kelompok yang mengembangkan wakaf, kami sangat bersyukur dan berterimakasih, itu merupakan sebuah energi positif bagi BWI, karena sosialisasi dan literasi Wakaf sudah menyebar dan sering menjadi pembahasan penting dalam upaya memajukan berbangsa dan bernegara melalui wakaf” ujarnya.
Sarmidi Husna mengatakan wakaf sangat penting bagi sebuah yayasan atau lembaga. dalam pembentukan Lembaga wakaf, harus memiliki dua orang nazhir yang sudah bersertifikasi dari Lembaga Sertifikasi Profesi Badan Wakaf Indonesia (LSP BWI).
“Minimal dua orang nazhir yang sudah bersertifikasi. Jika belum ada, bisa membuat komitmen kesediaan mengikuti sertifikasi nazhir,” terangnya.
Dirinya pun menyambut baik rencana STAIB dan Yayasan Matauli membentuk lembaga wakaf atau nazhir wakaf sendiri yang diharapkan bisa menjadi solusi pendanaan lembaga.
“Terkait pendirian lembaga wakaf ini, kami mendorong agar STAIB dan Yayasan Matauli bergerak di sektor wakaf uang. Untuk wakaf uang ini harus diajukan oleh lembaga yang sudah berbadan hukum. Nanti ijinnya dari Badan Wakaf Indonesia,” tuturnya.













