“STAIB dan BRIN Perkuat Kolaborasi Riset guna Merawat Resiliensi Kultural-Religius Masyarakat Pesisir Sibolga dan Barus”
“STAIB dan BRIN Perkuat Kolaborasi Riset guna Merawat Resiliensi Kultural-Religius Masyarakat Pesisir Sibolga dan Barus”
Barus, 16 Agustus 2026
Penulis: Nuraini Pangaribuan, M.Hum
Sekolah Tinggi Agama Islam Barus (STAIB) bersama Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) melaksanakan kegiatan penelitian kolaboratif pada 7–16 Agustus 2026 yang berlokasi di Sibolga dan Barus. Penelitian yang mengangkat tema “Merawat yang Tersisa, Menguatkan yang Bertahan: Model Resiliensi Kultural-Religius untuk Kawasan Pesisir Rawan Bencana Wilayah Sibolga dan Barus” ini menjadi bagian penting dari upaya memahami sekaligus memperkuat ketahanan masyarakat pesisir dalam menghadapi perubahan sosial, lingkungan, dan ancaman kebencanaan.
Kegiatan penelitian tersebut berangkat dari kesadaran bahwa kawasan pesisir Sibolga dan Barus tidak hanya memiliki kekayaan alam, tetapi juga menyimpan warisan kultural dan religius yang terbentuk melalui perjalanan sejarah yang panjang oleh masyarakat setempat. Tradisi, pengetahuan lokal, praktik keagamaan, hubungan sosial, serta berbagai bentuk memori kolektif merupakan modal sosial yang memiliki peran penting dalam membangun daya tahan masyarakat ketika menghadapi berbagai tekanan dan perubahan. Dalam konteks ini, penelitian yang dilaksanakan bukan hanya bertujuan mendokumentasikan masa lalu. Lebih dari itu, penelitian bertujuan memberikan jawaban yang kongkrit dari pertanyaan mendasar tentang apa yang masih bertahan, apa yang telah berubah atau melemah, dan bagaimana masyarakat menjaga warisan tersebut agar tetap hidup serta dapat diwariskan kepada generasi berikutnya. Dalam perspektif ini, “yang tersisa” bukan berarti sesuatu yang tidak lagi memiliki nilai, melainkan dapat menjadi titik awal untuk memahami kekuatan masyarakat. Demikian pula, “yang bertahan” merupakan modal sosial dan kultural yang dapat diperkuat agar tetap relevan bagi kehidupan generasi mendatang.
Kawasan pesisir Sibolga dan Barus memiliki karakteristik sosial dan geografis yang menjadikannya penting untuk dikaji dalam perspektif resiliensi. Selain menghadapi dinamika perubahan sosial dan ekonomi, masyarakat pesisir juga hidup dalam lingkungan yang memiliki kerentanan terhadap berbagai ancaman bencana. Peristiwa pada 25 November 2025 menjadi bukti nyata wilayah Sibolga dan Barus termasuk kawasan pesisir yang memiliki cuaca ekstrim dan potensi bencana hidrometeorologi yang dominan.
Salah satu fokus utama penelitian adalah mengidentifikasi berbagai unsur kebudayaan dan religiusitas yang masih bertahan di tengah perubahan zaman. Pada saat yang sama, penelitian juga memberikan perhatian terhadap unsur-unsur yang mulai mengalami pergeseran, berkurang intensitasnya, atau bahkan berpotensi hilang. Hasil temuan tim peneliti dilapangan memperoleh berbagai informasi terkait bentuk tradisi, ritual pengobatan tradisional dan adat budaya yang berkembang pada masyarakat di Sibolga dan Barus namun keberadaannya butuh perhatian khusus, diantaranya yakni “seni Sikambang, Mangure Lauik, Tawa dan Tolak Bala”.
Keterlibatan STAIB dalam penelitian bersama BRIN memiliki arti strategis bagi pengembangan tradisi riset di lingkungan perguruan tinggi. Kolaborasi ini mempertemukan kapasitas kelembagaan dan keilmuan dengan pengetahuan yang tumbuh dan berkembang di tengah masyarakat. Masyarakat memiliki pengalaman dan pengetahuan lokal, sementara dunia akademik memiliki perangkat metodologis untuk mengolah, menganalisis, dan mengembangkan pengetahuan tersebut menjadi rekomendasi yang lebih sistematis.
Penelitian ini diarahkan untuk memberikan kontribusi terhadap pengembangan model resiliensi kultural-religius yang sesuai dengan karakter kawasan pesisir Sibolga dan Barus, serta dapat menjadi dasar bagi berbagai pihak dalam merumuskan strategi penguatan masyarakat pesisir yang tidak hanya berorientasi pada aspek fisik dan infrastruktur, tetapi juga memperhatikan dimensi budaya, agama, sejarah, pengetahuan lokal khususnya diwilayah Sibolga dan Barus.
Melalui penelitian kolaboratif ini, STAIB dan BRIN menegaskan pentingnya menghadirkan riset yang berpijak pada realitas masyarakat sekaligus berorientasi pada masa depan. Kawasan Sibolga dan Barus tidak hanya dipandang sebagai wilayah yang memiliki kerentanan, tetapi juga sebagai ruang yang menyimpan modal budaya, religius, dan sosial yang dapat menjadi kekuatan dalam membangun ketahanan masyarakat. Sepuluh hari pelaksanaan penelitian, menjadi bagian dari proses yang lebih panjang untuk mendokumentasikan, memahami, dan menguatkan pengetahuan masyarakat pesisir. Sebab, merawat warisan bukan sekadar menjaga apa yang pernah ada, melainkan memastikan bahwa nilai-nilai yang masih bertahan dapat menemukan bentuk baru yang tetap bermakna bagi generasi yang akan datang.
















